Tampilkan postingan dengan label manajemen ternak perah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen ternak perah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2016

Cara Merawat Sapi Induk Laktasi dan Kering


Sapi induk laktasi setelah melahirkan pada awal (menghasilkan susu) produksi susu meningkat dengan cepat, dan puncak produksi susu dicapai pada hari ke 30-50, atau minggu ke 3-6, atau bulan ke 1-2. Setelah puncak produksi dicapai, kemudian produksi susu cenderung menurun sampai sapi kering (tidak menghasilkan susu) atau sapi dikeringkan (pemerahan dihentikan karena sapi sudah bunting 7 bulan). Pada saat produksi susu meningkat, kadar lemak dan kadar protein menurun. Sedangkan pada saat produksi susu menurun, kadar lemak dan kadar protein meningkat. Hubungan produksi susu dengan kadar lemak terjadi korelasi negatif, artinya pada saat produksi susu mencapai puncaknya, kadar lemaknya terendah. Proporsi produksi susu selama masa laktasi (10 bulan), pada bulan pertama, kedua dan seterusnya sampai bulan ke 10, masing-masing: 13%, 13%, 12%, 12%, 10%, 10%, 9%, 8%, 7% dan 6% total produksi.


Periode awal laktasi
Periode awal masa laktasi adalah masa yang paling kritis, terjadi pada saat mulai menghasilkan susu. Pada saat ini produksi susu naik dengan cepat sampai mencapai puncak produksi. Pada awal masa laktasi (bulan pertama dan kedua setelah beranak) proposi produksi susu masing-masing 13% total produksi selama masa laktasi (10 bulan)

Periode laktasi tengah
Pada periode laktasi tengah sapi harus dijaga supaya puncak produksi berlangsung selama mungkin (persistensi bagus). Masalah utama yang dapat terjadi dalam tahap ini adalah masalah menurunnya susu. Pada periode laktasi tengah meliputi bulan ke 3 s/d ke 6, proporsi produksi susu setiap bulannya masing-masing sekitar 12%, 12%, 10% dan 10% total produksi selama masa laktasi.

Periode laktasi akhir
Pada periode laktasi akhir produksi susu makin menurun, proporsi produksi susu pada bulan ke 7, ke 8, ke 9 dan ke 10 masing-masing 9%, 8%, 7% dan 6% total produksi selama masa laktasi.

Dari uraian tersebut di atas ada 3 petunjuk yang perlu diperhatikan pada tatalaksanan untuk sapi perah.

  • Pada periode laktasi permulaan, produksi susu secepatnya meningkat hingga jumlah tertinggi (bulan 1 -2).
  • Waktu puncak produksi dijaga agar berat badan sapi tidak turun.
  • Pada periode akhir sampai masa kering, badan sapi dijaga jangan sampai terlalu gemuk.

PERAWATAN SAPI KERING
Masa kering merupakan masa yang penting bagi sapi perah, maka perlu pemberian pakan dan perawatan yang tepat. Masa kering harus diartikan sebagai persiapan permulaan dimulainya masa laktasi baru, bukan sebagai akhir laktasi. Pengeringan mulai dilakukan 2 bulan sebelum sapi melahirkan atau sapi sudah bunting 7 bulan. Untuk pengeringan sapi ada 3 metode, yaitu:

1.    Intermittent milking, yaitu pengurangan frekuansi pemerahan secara bertahap, artinya semula sapi diperah dua kali sehari, kemudian diperah satu kali sehari. Selanjutnya pada hari berikutnya sapi diperah satu kali setiap dua hari, dan akhirnya pemerahan dihentikan.
2.    Incomplete milking, yaitu pada saat sapi akan dikeringkan dilakukan pemerahan dengan tidak sempurna. selanjutnya apabila produksi sudah menurun hanya tinggal beberapa  liter per harinya, kemudian pemerahan dihentikan.
3.    Abrupt cessation of milking. Metode pengeringan ini adalah yang terbaik, terutama bagi sapi pada waktu akan dikeringkan produksinya masih tinggi, dan  untuk menghindari agar sapi tidak kena mastitis. Caranya, tiga hari sebelum pengeringan dilakukan, semua pemberian konsentrat dihentikan dan pemberian hijauan dikurangi kira-kira tinggal setengah sampai dua pertiganya pemberian normal. Penurunan pakan baik kualitas maupun kuantitasnya akan berakibat penurunan produksi susu karena sekresi susu berkurang. Pada pemerahan terakhir, puting dibersihkan dan dicelupkan pada desinfektan untuk menghindari agar ambing tidak kemasukan bakteri. 

Perlunya sapi dikeringkan
  • Memulihkan kondisi sapi setelah memproduksi susu selama laktasi dan memberikan kesempatan kelenjar ambing untuk beristirahat. Sapi membutuhkan waktu 6 minggu untuk memulihkan kelenjar susu dan mengganti persediaan energi.
  • Sejak awal sampai akhir laktasi banyak kehilangan alveoli atau kelenjar susu. Itulah sebabnya mengapa produksi pada periode akhir laktasi turun. Saat dikeringkan sapi membuat alveoli kembali untuk memproduksi susu lebih banyak lagi pada laktasi berikutnya.
  • Sampai akhir laktasi sapi menggunakan hampir seluruh timbunan gizi (nutrisi) untuk menghasilkan susu, sehingga sapi harus menimbun nutrisi lagi untuk persiapan beranak dan laktasi berikutnya. Kondisi yang baik pada saat akan beranak, produksi susu akan labih banyak pada laktasi berikutnya dan segera akan mencapai puncak produksi.
  • Pemerahan selama masa laktasi akan menguras persediaan kalsium, fosfor dan mineral lainnya. Jumlah dan keseimbangan mineral yang tidak tepat dapat menyebabkan milk fever dan masalah lain.
  • Memberi kesempatan pertumbuhan pedet sebelum lahir, lebih dari separo janin berkembang 2 bulan sebelum lahir.
  • Menghasilkan kolostrum untuk pedet yang akan dilahirkan.



Selasa, 28 Juni 2016

SAPI PERAH LAKTASI


SAPI PERAH LAKTASI,
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan sapi masa laktasi, antara lain :
1. Manajemen pakan dan air minum
2. Manajemen Pakan
Dalam pemberian pakan sapi laktasi harus diperhitungkan dan disesuaikan dengan kebutuhan yang didasarkan atas hidup pokok, pertumbuhan dan produksi. Pemberian pakan secara individu pada sapi laktasi di kandang atau milking parlor berubah mengarah ke sistem pemberian pakan yang baru. Meskipun metode yang lebih baru tidak seefektif pemberian secara individual, sistem ini lebih ekonomis daripada semua sapi diberi sejumlah konsentrat yang sama  tanpa memperhatikan produksi susu. Di samping itu, ada penghematan tenaga kerja dan fasilitas. Yang paling baik perbaikan pemberian pakan mengkombinasikan “seni dan ilmu pemberian pakan“ (Muljana,2005).
Pakan ternak yang diberikan kepada sapi perah kandungan zat zat pakan seperti karbohidrat, vitamin, protein, lemak air dan mineral. Pemberian pakan yang baik juga harus mempertimbangkan phalatabilitas dan aspek ekonomis. Pada pemberian pakan fase laktasi dikenal Phase Feeding. Phase Feeding merupakan suatu program pemberian pakan yang dibagi ke dalam periode-periode berdasarkan pada produksi susu, persentase lemak susu, konsumsi pakan, dan bobot badan. Lihat ilustrasi bentuk dan hubungan kurva produksi susu, % lemak susu, konsumsi BK, dan bobot badan. Didasarkan pada kurva-kurva tersebut, didapatkan 4 fase pemberian pakan sapi laktasi:
1. Fase 1, laktasi awal (early lactation), 0 – 70 hari setelah beranak.
Selama periode ini, produksi susu meningkat dengan cepat, puncak produksi susu dicapai pada 4-6 minggu setelah beranak. Pada saat ini konsumsi pakan tidak dapat memenuhi kebutuhan zat-zat makanan (khususnya kebutuhan energi) untuk produksi susu, sehingga jaringan-jaringan tubuh dimobilisasi untuk memenuhi kebutuhan. Selama fase ini, penyesuaian sapi terhadap ransum laktasi merupakan cara manajemen yang penting. Setelah beranak, konsentrat perlu ditingkatkan 1-1,5 lb per hari untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang meningkat dan meminimisasi problem tidak mau makan dan asidosis. Namun perlu diingat, proporsi konsentrat yang berlebihan (lebih dari 60% BK ransum) dapat menyebabkan asidosis dan kadar lemak yang rendah. Tingkat serat kasar ransum tidak kurang dari 18% ADF, 28% NDF, dan hijauan harus menyediakan minimal 21% NDF dari total ransum. Bentuk fisik serat kasar juga penting, secara normal ruminasi dan pencernaan akan dipertahankan bila lebih dari 50% hijauan panjangnya 1” atau lebih.
Kandungan protein merupakan hal yang kritis selama laktasi awal. Upaya untuk memenuhi atau melebihi kebutuhan PK selama periode ini membantu konsumsi pakan, dan penggunaan yang efisien dari jaringan tubuh yang dimobilisasi untuk produksi susu. Ransum dengan protein 19% atau lebih diharapkan dapat me-menuhi kebutuhan selama fase ini. Tipe protein (protein yang dapat didegradasi atau tidak didegradasi) dan jumlah protein yang diberikan dipengaruhi oleh kandungan zat makanan ransum, metode pemberian pakan, dan produksi susu. Sebagai patokan, yang diikuti oleh banyak peternak (di luar negeri) memberikan 1 lb bungkil kedele atau protein suplemen yang ekivalen per 10 lb susu, di atas 50 lb susu.
Bila zat makanan yang dibutuhkan saat laktasi awal ini tidak terpenuhi, produksi puncak akan rendah dan dapat menyebabkan ketosis. Produksi puncak rendah, dapat diduga produksi selama laktasi akan rendah. Bila konsumsi konsentrat terlalu cepat atau terlalu tinggi dapat menyebabkan tidak mau makan, acidosis, dan displaced abomasum. Untuk meningkatkan konsumsi zat-zat makanan:
1.      Memberi hijauan kualitas tinggi,
2.      Protein ransum cukup,
3.      Tingkatkan konsumsi konsentrat pada kecepatan yang konstan setelah beranak,
4.      Tambahkan 1,0-1,5 lb lemak/ekor/hari dalam ransum,
5.      Pemberian pakan yang konstan, dan
6.      Minimalkan stress.
2. Fase 2, konsumsi BK puncak, 10 minggu kedua setelah beranak.
Selama fase ini, sapi diberi pakan berkualitas untuk mempertahankan produksi susu puncak selama mungkin. Konsumsi pakan mendekati maksimal sehingga dapat me-nyediakan zat-zat makanan yang dibutuhkan. Sapi dapat mempertahankan bobot badan atau sedikit meningkat. Konsumsi konsentrat dapat banyak, tetapi jangan melebihi 2,3% bobot badan (dasar BK). Kualitas hijauan tinggi perlu disediakan, minimal konsumsi 1,5% dari bobot badan (berbasis BK) untuk mempertahankan fungsi rumen dan kadar lemak susu yang normal. Untuk meningkatkan konsumsi pakan:
1.      Memberi hijauan dan konsentrat tiga kali atau lebih sehari,
2.      Memberi bahan pakan kualitas tinggi,
3.      Membatasi urea 0,2 lb/sapi/hari,
4.      Meminimalkan stress,
5.      Menggunakan TMR (total mix ration).
Problem yang potensial pada fase 2, yaitu:
1.      Produksi susu turun dengan cepat,
2.      kadar lemak rendah,
3.      Periode  silent heat (berahi tidak terdeteksi),
4.      Ketosis.
3. Fase 3, pertengahan – laktasi akhir, 140 – 305 hari setelah beranak.
Fase ini merupakan fase yang termudah untuk me-manage. Selama periode ini produksi susu menurun, sapi dalam keadaan bunting, dan konsumsi zat makanan dengan mudah dapat dipenuhi atau melebihi kebutuhan. Level pem-berian konsentrat harus mencukupi untuk memenuhi kebutuhan produksi, dan mulai mengganti berat badan yang hilang selama laktasi awal. Sapi laktasi membutuhkan pakan yang lebih sedikit untuk mengganti 1 pound jaringan  tubuh daripada sapi kering. Oleh karena itu, lebih efisien mempunyai sapi yang meningkat bobot badannya dekat laktasi akhir daripada selama kering.
2.1.2 Pemberian Air Minum
Sebagian besar kebutuhan air bagi ternak ruminansia dipenuhi dari air dan selebihnya berasal dari ransum dan dari proses metabolisme yang terjadi pada tubuh ternak. Menurut Muljana (1987), jumlah air yang diminum tergantung pada ukuran tubuh, temperature lingkungan, kelembaban udara dan jumlah air yang ada pada pakan. Sudono A(1990) menambahkan bahwa air yang dibutuhkan seekor sapi perah tidak cukup bila hanya diharapkan dari hijauan saja, walaupun kadar air hijauan sekitar 70%-80%. Air yang diperlukan seekor sapi perah sekitar 37-45 liter/hari. Sapi laktasi diberikan air minum secara ad-libitum  yang diletakkan dalam bak air minum di samping bak pakan. Keadaan ini sesuai dengan pendapat Sudono et al.(2003), bahwa jumlah air minum dibutuhkan untuk menghasilkan 1 liter susu adalah 4 liter . Air minum yang dikonsumsi rata-rata per ekor adalah 47-50 liter. Menurut Siregar (1995), air minum yang dibutuhkan ternak sapi perah untuk memproduksi susu sekitar 30-40 liter per hari. Air minum tersebut diperoleh dari sumur yang terdapat di dalam area peternakan. Air dari sumur dipompa dengan mesin pompa air dan disalurkan kedalam bak penampung air dengan menggunakan peralon. Dari bak penampungan air dialirkan ketiap-tiap kandang dengan peralon yang didesain pada tiap kandang.
2.2. Pengelolaan Reproduksi Sistem perkawinan
Perkawinan alami ini dilakukan dengan cara memasukkan sapi betina ke dalam kandang kosong dan diikat kuat guna mempesempit ruang gerak sapi dan mendatangkan pejantan pada betina untuk dilangsungkan perkawinan. Mandor, teknisi, serta beberapa pekerja   kandang membantu jalannya perkawinan sapi apabila tanda-tanda birahi sudah tampak setelah 8 jam berlangsung dari awal birahi. Tanda- tanda birahi meliputi sapi tampak gelisah, nafsu makan berkurang, produksi susu menurun (untuk sapi yang sudah laktasi), keluar cairan bening putih dan pekat dari vagina. Menurut Toelihere (1985), waktu yang tepat untuk melakukan perkawinan adalah 9 jam setelah tampak gejala birahi sampai 6 jam setelah birahi berakhir. 2-3 bulan setelah melahirkan sapi perah harus sudah dikawinkan kembali (Anonimus,1995). Menurut Muljana (1982) bahwa sapi betina yang tidak bunting setelah dikawinkan akan mengalami siklus birahi 21 hari sekali dan lama birahi rata-rata 18 jam.
2.3  Pemerahan
Pemerahan Sapi yang sedang berproduksi memiliki jadwal pemerahan setiap hari yang pada umumnya di lakukan 2 kali sehari (Anonimus, 1995). Jadwal pemerahan yang teratur dan seimbang akan memberikan produksi susu yang lebih baik dari pada pemerahan yang tidak teratur dan seimbang. Sebelum pemerahan dilakukan, ambing dicuci terlebih dahulu agar susu tidak terkontaminasi dengan kotoran. Kemudian peralatan yang digunakan yaitu : ember, minyak kelapa sebagai pelicin dan penyaring susu disiapkan. Menurut Siregar (1995), bahwa sebelum pemerahan, puting diolesi dengan pelicin. Menurut Blakely dan bade (1992) bahwa proses pelepasan susu akan terganggu bila sapi merasa sakit dan ketakutan. Selain itu tangan pemerah harus bersih, dan kuku tidak boleh panjang, karena dapat melukai puting susu dan juga untuk menghindari terkontaminasinya susu oleh kotoran yang mengandung bakteri.
Metode pemerahan yang sering digunakan di Indonesia adalah  sebagai berikut :
a.       Whole Hand
Metode ini dilakukan dengan cara jari memegang puting susu pada pangkal puting diantara ibu jari dan telunjuk dengan tekanan diawali dari atas yang diikuti jari tengah, jari manis dan kelingking seperti memeras. Pemerahan secara Whole hand membutuhkan waktu rata-rata 6,64 menit untuk memerah seekor sapi dan cara ini digunakan untuk sapi yang putingnya panjang.
b.      Stripping
Metode ini dilakukan dengan cara puting dijepit antara ibu jari dan jari telunjuk yang digeserkan pada pangkal puting bawah sambil dipijat. Pemerahan secara Stripping rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk memerah seekor sapi adalah 7,72 menit dan cara ini digunakan untuk sapi yang ukuran putingnya pendek.  Cara pemerahan tersebut sesuai dengan pendapat Syarief  dan Sumoprastowo (1985) yang menyatakan bahwa whole hand merupakan cara terbaik untuk sapi yang memiliki puting panjang dan produksi susu tinggi sedangkan cara Strippen biasa digunakan untuk sapi yan putingnya pendek.
c.       Pemerahan dengan mesin
Pemerahan susu dengan mesin masih sedikit digunakan di Indonesia, hanya peternakan dalam skala besar yang menggunakannya. Cara kerja dengan menggunakan mesin perah inihampir sama dengan pemerahan pakai tangan, hanya saja dibedakan dengan dengan mesin. Pemerahan berjalan dan air susu mengalir dalam ember. Lama pemerahan untuk setiap sapi perah kurang lebih 8 menit. Hal ini sangat tergantung pada banyaknya produksi susu yang dihasilkan (Dirjen Peternakan, 2009).
2.4 Sanitasi kandang dan Ternak
 Sanitasi kandang dilakukan dengan cara membersihkan tempat pakan dan tempat minum,  feses serta sisa pakan yang tercecer pada lantai kandang. Lingkungan kandang yang bersih dimaksudkan agar sapi tidak terserang penyakit dan susu yang dihasilkan tidak terkontaminasi oleh kotoran. Hal ini sesuai dengan pendapat Williamson dan Pyne (1993), bahwa lingkungan kandang sapi harus bersih supaya saat pemerahan susu tidak terkontaminasi serta menjaga kesehatan sapi. Sumoprastowo (1990), bahwa memandikan sapi hendaknya dilakukan setiap hari sekitar pukul 06.00 - 08.00 WIB, yakni sebelum sapi diperah sehingga harus selalu bersih setiap kali akan diperah terutama bagian lipatan paha sampai bagian belakang tubuh. Sebab kotoran yang menempel pada tubuh sapi akan menghambat proses penguapan pada saat sapi kepanasan, sehingga energi yang dikeluarkan untuk penguapan lebih banyak dibanding dengan energi untuk pembentukan susu.
Pemeliharaan kuku perlu mendapat perhatian karena ini sebaian dari sanitasi dari pemeliharan sapiperah, apalagi saat laktasi kemungkinan dapat menurunkan produksi. Pemotongan kuku dilakukan setiap enam bulan sekali. Pemotongan dilakukan agar posisi kedudukan sapi saat berdiri serasi. Kuku dipotong pada bagian lapisan tanduk pada telapak kaki sampai rata sehingga bobot sapi terbagi rata pada keempat kakinya (Dirjen Peternakan, 2009).
2.5. Perkandangan
Bangunan kandang sebaiknya diusahakan supaya sinar matahari pagi bisa masuk ke dalam kandang. Sebab sinar matahari pagi tidak begitu panas dan banyak mengandung ultraviolet yang berfungsi sebagai disinfektan dan membantu pembentukan vitamin D. Pembuatan kandang sebaiknya jauh dari pemukiman penduduk  sehingga tidak menganggu masyarakat baik dari limbah ternak maupun pencemaran udara (Girisonta, 1980).
Sistem perkandangan merupakan aspek penting dalam usaha peternakan sapi perah. Kandang bagi sapi perah bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja, akan tetapi harus dapat memberikan perlindungan  dari segala aspek yang menganggu (Siregar, 1993), seperti untuk menghindari ternak dari terik matahari, hujan ,angin kencang, gangguan binatang buas, dan pencuri (Sugeng, 2001).
Ukuran kandang induk laktasi yaitu lebar 1,75 m dan panjang 1,25 m serta dilengkapi tempat pakan dan minum, masing-masing dengan ukuran 80 x 50 cm dan 50 x 40 cm. Kandang yang baik mempunyai persyaratan, seperti lantai yang kuat dan tidak licin, dengan kemiringan 2-5ยบ dan kemiringan atap 30ยบ serta disesuaikan dengan suhu dan kelembaban lingkungan sehingga ternak akan merasa nyaman berada di dalam kandang serta letak selokan dibuat pada gang tepat di belakang jajaran sapi (Girisonta, 1995).
Menurut konstruksinya kandang sapi perah dapat dibedakan menjadi dua yaitu kandang tunggal yang terdiri satu baris dan kandang ganda yang terdiri dari dua baris yang saling berhadapan (Head to Head ) atau berlawanan (Tail to Tail). Tipe kandang Head to Head dirancang dengan satu gang bertujuan agar mempermudah saat memberi pakan dan efisien waktu, sedangkan tipe kandang Tail to Tail terdapat 2 gang dengan tujuan untuk mempermudah saat membersihkan feses (Anonimus, 2002). Untuk bahan atap kandang dapat menggunakan genting, seng, asbes, rumbia, ijuk/ alang-alang, dan sebagainya. Menurut Girisonta (1980) bahan atap kandang yang ideal di negara tropis adalah genting. Dengan berbagai pertimbangan yakni genting dapat menyerap panas, mudah didapat, tahan lama, antara genting yang satu dengan yang lain terdapat celah sehingga sirkulasi udara cukup baik.

Sabtu, 25 Juni 2016

Manajemen Pemberian Pakan Sapi Perah (SAPI LAKTASI)


Pemberian pakan secara individu pada sapi laktasi di kandang atau milking parlor berubah mengarah ke sistem pemberian pakan yang baru. Meskipun metode yang lebih baru tidak seefektif pemberian secara individual, sistem ini lebih ekonomis daripada semua sapi diberi sejumlah konsentrat yang sama  tanpa memperhatikan produksi susu. Di samping itu, ada penghematan tenaga kerja dan fasilitas. Yang paling baik perbaikan pemberian pakan mengkombinasikan “seni dan ilmu pemberian pakan“.
A. Phase Feeding
Phase Feeding adalah suatu program pemberian pakan yang dibagi ke dalam periode-periode berdasarkan pada produksi susu, persentase lemak susu, konsumsi pakan, dan bobot badan. Lihat ilustrasi bentuk dan hubungan kurva produksi susu, % lemak susu, konsumsi BK, dan bobot badan. Didasarkan pada kurva-kurva tersebut, didapatkan 4 fase pemberian pakan sapi laktasi:
1. Fase 1, laktasi awal (early lactation), 0 – 70 hari setelah beranak.
Selama periode ini, produksi susu meningkat dengan cepat, puncak produksi susu dicapai pada 4-6 minggu setelah beranak. Pada saat ini konsumsi pakan tidak dapat memenuhi kebutuhan zat-zat makanan (khususnya kebutuhan energi) untuk produksi susu, sehingga jaringan-jaringan tubuh dimobilisasi untuk memenuhi kebutuhan. Selama fase ini, penyesuaian sapi terhadap ransum laktasi merupakan cara manajemen yang penting. Setelah beranak, konsentrat perlu ditingkatkan 1-1,5 lb per hari untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang meningkat dan meminimisasi problem tidak mau makan dan asidosis. Namun perlu diingat, proporsi konsentrat yang berlebihan (lebih dari 60% BK ransum) dapat menyebabkan asidosis dan kadar lemak yang rendah. Tingkat serat kasar ransum tidak kurang dari 18% ADF, 28% NDF, dan hijauan harus menyediakan minimal 21% NDF dari total ransum. Bentuk fisik serat kasar juga penting, secara normal ruminasi dan pencernaan akan dipertahankan bila lebih dari 50% hijauan panjangnya 1” atau lebih.
Kandungan protein merupakan hal yang kritis selama laktasi awal. Upaya untuk memenuhi atau melebihi kebutuhan PK selama periode ini membantu konsumsi pakan, dan penggunaan yang efisien dari jaringan tubuh yang dimobilisasi untuk produksi susu. Ransum dengan protein 19% atau lebih diharapkan dapat me-menuhi kebutuhan selama fase ini. Tipe protein (protein yang dapat didegradasi atau tidak didegradasi) dan jumlah protein yang diberikan dipengaruhi oleh kandungan zat makanan ransum, metode pemberian pakan, dan produksi susu. Sebagai patokan, yang diikuti oleh banyak peternak (di luar negeri) memberikan 1 lb bungkil kedele atau protein suplemen yang ekivalen per 10 lb susu, di atas 50 lb susu.
Bila zat makanan yang dibutuhkan saat laktasi awal ini tidak terpenuhi, produksi puncak akan rendah dan dapat menyebabkan ketosis.  Produksi puncak rendah, dapat diduga produksi selama laktasi akan rendah. Bila konsumsi konsentrat terlalu cepat atau terlalu tinggi dapat menyebabkan tidak mau makan, acidosis, dan displaced abomasum. Untuk meningkatkan konsumsi zat-zat makanan:
§  beri hijauan kualitas tinggi,
§  protein ransum cukup,
§  tingkatkan konsumsi konsentrat pada kecepatan yang konstan setelah beranak,
§  tambahkan 1,0-1,5 lb lemak/ekor/hari dalam ransum,
§  pemberian pakan yang konstan, dan
§  minimalkan stress.
2. Fase 2, konsumsi BK puncak, 10 minggu kedua setelah beranak.
Selama fase ini, sapi diberi makan untuk mempertahankan produksi susu puncak selama mungkin. Konsumsi pakan mendekati maksimal sehingga dapat me-nyediakan zat-zat makanan yang dibutuhkan. Sapi dapat mempertahankan bobot badan atau sedikit meningkat. Konsumsi konsentrat dapat banyak, tetapi jangan melebihi 2,3% bobot badan (dasar BK). Kualitas hijauan tinggi perlu disediakan, minimal konsumsi 1,5% dari bobot badan (berbasis BK) untuk mempertahankan fungsi rumen dan kadar lemak susu yang normal. Untuk meningkatkan konsumsi pakan:
§  beri hijauan dan konsentrat tiga kali atau lebih sehari,
§  beri bahan pakan kualitas tinggi,
§  batasi urea 0,2 lb/sapi/hari,
§  minimalkan stress,
§  gunakan TMR (total mix ration).
Problem yang potensial pada fase 2, yaitu:
§  produksi susu turun dengan cepat,
§  kadar lemak rendah,
§  periode  silent heat (berahi tidak terdeteksi),
§  ketosis.
3. Fase 3, pertengahan – laktasi akhir, 140 – 305 hari setelah beranak.
Fase ini merupakan fase yang termudah untuk me-
manage. Selama periode ini produksi susu menurun, sapi dalam keadaan bunting, dan konsumsi zat makanan dengan mudah dapat dipenuhi atau melebihi kebutuhan. Level pem-berian konsentrat harus mencukupi untuk memenuhi kebutuhan produksi, dan mulai mengganti berat badan yang hilang selama laktasi awal. Sapi laktasi membutuhkan pakan yang lebih sedikit untuk mengganti 1 pound jaringan  tubuh daripada sapi kering. Oleh karena itu, lebih efisien mempunyai sapi yang meningkat bobot badannya dekat laktasi akhir daripada selama kering.
4. Fase 4, periode kering, 45 – 60 hari sebelum beranak.
Fase kering penting. Program pemberian pakan sapi kering yang baik dapat meminimalkan problem metabolik pada atau segera setelah beranak dan meningkatkan produksi susu selama laktasi berikutnya. Sapi kering harus diberi makan terpisah dari sapi laktasi. Ransum harus diformulasikan untuk memenuhi kebutuhannya yang spesifik:maintenance, pertumbuhan foetus, pertambahan bobot badan yang tidak terganti pada fase 3. Konsumsi BK ransum harian sebaiknya mendekati 2% BB; konsumsi hijauan minimal 1% BB; konsumsi konsentrat bergantung kebutuhan, tetapi tidak lebih 1% BB. Setengah dari 1% BB (konsentrat) per hari biasanya cukup untuk program pemberian pakan sapi kering.
Sapi kering jangan terlalu gemuk. Memberikan hijauan kualitas rendah, seperti grass hay, lebih disukai untuk membatasi konsumsi.  Level protein 12% cukup untuk periode kering.
Sedikit konsentrat perlu diberikan dalam ransum sapi kering dimulai 2 minggu sebelum beranak, bertujuan:
§  mengubah bakteri rumen dari populasi pencerna hijauan seluruhnya menjadi populasi campuran pencerna hijauan dan konsentrat;
§  meminimalkan stress terhadap perubahan ransum setelah beranak.
Kebutuhan Ca dan P sapi kering harus dipenuhi, tetapi perlu dihindari pemberian yang berlebihan; kadang-kadang ransum yang mengandung lebih dari 0,6% Ca dan 0,4% P meningkatkan kejadian milk fever. Trace mineral, termasuk Se, harus disediakan dalam ransum sapi kering. Juga, jumlah vitamin A, D. dan E yang cukup dalam ransum untuk mengurangi kejadian milk fever, mengurangi retained plasenta, dan meningkatkan daya tahan pedet.
Problem yang potensial selama fase 4 meliputi milk fever, displaced abomasum, retained plasenta, fatty liver syndrome, selera makan rendah, gangguan metabolik lain, dan penyakit yang dikaitkan dengan fat cow syndrome.
Manajemen kunci yang harus diperhatikan selama periode kering, meliputi:
§  observasi kondisi tubuh dan penyesuaian pemberian energi bila diperlukan,
§  penuhi kebutuhan zat makanan tetapi cegah pemberian yang berlebihan,
§  perubahan ransum 2 minggu sebelum beranak, dengan menggunakan konsentrat dan jumlah kecil zat makanan lain yang digunakan dalam ransum laktasi,
§  cegah konsumsi Ca dan P yang berlebihan, dan
§  batasi garam dan mineral sodium lainnya dalam ransum sapi kering untuk mengurangi problem bengkak ambing.
Pada waktu kering, kondisi tubuh sapi 2 atau 3, sedangkan saat beranak 3,5–4,0. Selama 60 hari periode kering, sapi diberi makan untuk mendapatkan PBB: 120 – 200 lbs.

B. Challenge Feeding (Lead Feeding).
Challenge feeding atau lead feeding, adalah pemberian pakan sapi laktasi sedemikian sehingga sapi ditantang untuk mencapai level produksi susu puncaknya sedini mungkin pada waktu laktasi.
Karena ada hubungan yang erat antara produksi susu puncak dengan produksi susu total selama laktasi, penekanan harus diberikan pada produksi maksimal antara 3 – 8 minggu setelah beranak.
Persiapan untuk challenge feeding dimulai selama periode kering;
§  sapi kering dalam kondisi yang baik,
§  transisi dari ransum kering ke ransum laktasi, mempersiapkan bakteri rumen.
Setelah beranak challenge feeding dimaksudkan untuk meningkatkan pemberian konsentrat beberapa pound per hari di atas kebutuhan sebenarnya pada saat itu. Maksudnya adalah memberikan kesempatan pada setiap sapi untuk mencapai produksi puncaknya pada atau dekat potensi genetiknya.
Waktu beranak merupakan pengalaman yang sangat traumatik bagi sapi yang berproduksi tinggi. Akibatnya, banyak sapi tertekan selera makannya untuk bebe-rapa hari setelah beranak. Sapi yang berproduksi susu sangat tinggi tidak dapat mengkonsumsi energi yang cukup untuk mengimbangi energi yang dikeluarkan. Konsekuensinya, sapi akan melepaskan cadangan lemak dan protein tubuhnya untuk suplementasi ransumnya.  Tujuan dari pemberian pakan sapi yang baru beranak adalah untuk menjaga ketergantungannya terhadap energi dan protein yang disimpan, sekecil dan sesingkat mungkin. Penolakan makanan merupakan ancaman yang besar, sangat perlu dicegah.
Challenge feeding membantu sapi mencapai produksi susu puncaknya lebih dini daripada yang seharusnya, sehingga keuntungan yang dapat diambil adalah,  bahwa pada saat itu,  secara fisiologis sapi  mampu beradaptasi terhadap produksi susu tinggi.

C. Corral (Group) Feeding (Pemberian pakan (group) di kandang).
Pemberian pakan secara individual pada sapi-sapi laktasi sudah mengarah kemechanized group feeding. Hal ini dikembangkan untuk kenyamanan dan peng-hematan tenaga kerja, dibandingkan ke feed efficiency. Saat ini, peternakan dengan beberapa ratus sapi laktasi adalah biasa, dan beberapa peternakan bahkan  me-miliki beberapa ribu ekor. Untuk merancang program nutrisi sejumlah besar ternak, dapat diadaptasikan terhadap kebutuhan spesifik sapi-sapi perah, sapi-sapi di-pisahkan ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan produksi (dan kebutuhan nutrisi).
Bila produser memutuskan pemberian pakan secara kelompok, perlu ditentukan jumlah kelompok yang akan diambil. Untuk menentukan jumlah kelompok tersebut pertimbangan perlu diberikan pada hal-hal berikut:
§  besar peternakan (herd size),
§  tipe dan harga bahan pakan,
§  tipe perkandangan, pemberian pakan, dan sistem pemerahan
§  integrasi ekonomi secara keseluruhan dari operasional, sebagai contoh tenaga kerja, mesin-mesin peralatan, dan lain-lain.
Pada peternakan besar (lebih dari 250 sapi perah laktasi), sistem yang biasa digunakan adalah minimal dibentuk 5 kelompok:
§  sapi-sapi produksi tinggi (90 lb. susu/ekor/hari)
§  sapi-sapi produksi medium (65 lb. susu/ekor/hari)
§  sapi-sapi produksi rendah (45 lb susu/ekor/hari)
§  sapi-sapi kering
§  sapi-sapi dara beranak pertama
Lebih banyak kelompok dapat dilakukan pada peternakan yang sangat besar bila kandang dan fasilitas tersedia. Karena pertimbangan pemberian pakan dan sosial, disarankan maksimal 100 ekor sapi per kelompok.  Melalui sistem ini setiap ke-lompok diberi makan menurut kebutuhannya. Kelompok dengan produksi tinggi harus diberi makan yang mengandung zat-zat makanan kualitas tertinggi pada tingkat maksimal. Sapi produksi medium harus diberi makan sedemikian sehingga dapat mengurangi biaya pakan, meningkatkan kadar lemak, memperbaiki  fungsi rumen, mempertahankan persistensi. Sapi produksi rendah sebagaimana untuk produksi medium hanya perlu dipertimbangkan untuk menghindari kegemukan yang berlebihan.
Salah satu problem dalam pemberian pakan secara berkelompok menyangkut adaptasi tingkah laku dari sapi-sapi yang baru dikelompokkan, seperti peck order tetapi masalah ini tidak terlalu besar. Untuk mengatasi masalah ini pindahkan beberapa ekor sapi bersama-sama ke dalam kelompok baru sebelum diberi makan.
Bila program pemberian pakan secara kelompok diikuti, konsentrat jarang diberikan di tempat pemerahan, biasanya diberikan di kandang. Pemberian pakan berkelompok dapat dengan mudah beradaptasi pada penggunaan complete feeds yaitu konsentrat, hijauan, dan suplemen dicampur menjadi satu, tidak diberikan terpisah.  Beberapa produser yang menggunakan complete feeds lebih menyukai pemberian hijauan kering, khususnya long stemmed hay secara terpisah  untuk meningkatkan stimulasi rumen dan fasilitas pencampuran, karena long hay sulit dicampur dalam mixer.
Keuntungan pemberian pakan berkelompok dan complete feed adalah:
§  produser dapat menggunakan formulasi khusus yang penting untuk ternak
§  mengeliminasi kebutuhan penyediaan mineral ad libitum
§  konsumsi ransum yang tepat
§  difasilitasi pemberian pakan secara mekanis, sehingga mengurangi tenaga kerja yang dibutuhkan
§  mengeliminasi problem yang dikaitkan dengan konsumsi yang tidak terkontrol dari bahan pakan tertentu
§  mengurangi resiko gangguan pencernaan, seperti  seperti displaced abomasum
§  mengurangi pemberian pakan di tempat pemerahan
§  penggunaan maksimal dari formulasi ransum biaya terendah
§  menutupi bah.pakan yang tidak palatabel, seperti urea
§  dapat diadaptasikan terhadap sistem kandang konvensional
§  memungkinkan produser menetapkan rasio serat kasar terhadap proporsi konsentrat dalam ransum
§  mengurangi resiko kekurangan micronutrient
§  menyediakan operator dengan gambaran konsumsi pakan harian kelompok, yang kemudian dapat digunakan memperbaiki manajemen
Di antara kerugian dari pemberian pakan berkelompok dan complete feed adalah:
§  memerlukan peralatan pencampuran yang khusus untuk meyakinkan mencampur secara merata
§  tidak ekonomis membagi peternakan kecil ke dalam kelompok-kelompok
§  tidak dapat diaplikasikan terhadap peternakan yang digembalakan
§  sulit untuk membuat kelompok-kelompok pada beberapa design kandang
§  dapat terjadi mismanagement seperti fat cow syndrome dan problem kesehatan seperti kesulitan melahirkan, reproduksi yang jelek, produksi rendah, konsumsi bahan kering rendah, dan gangguan metabolik. Dalam berbagai kasus problem-problem tersebut tidak timbul segera, biasanya muncul beberapa bulan kemudian.


Jumat, 24 Juni 2016

KANDANG SAPI PERAH DAN PERLENGKAPANYA



Kandang Sapi Perah Dan Perlengkapanya
Kandang Sapi Perah Dan Peralatanya : Dalam memulai usaha sapi perah ketersedian kandang dan peralatan penunjang lainya sangat perlu di perhatikan agar usaha ternak sapi yang kita lalukan dapat berjalan dengan baik dan bertahan lama.Kandang sapi perah adalah tempat yang dirancang khusus untuk kehidupapan hewan ternak sapi dalam proses usaha pembibitan dan produksi susu pada periode tertentu, mulai dari pedet, sapi dara dan sapi dewasa secara baik, aman dari Predator serta perubahan iklim yang mendadak, sehat, dan cukup pergerakan, sehingga sapi dapat hidup secara leluasa produktif dan masa hidupnya agar lebih panjang.
Kandang sapi perah sebaiknya dirancang sebaik mungkin agar penggunaanya efektif untuk memenuhi persyaratan kesehatan serta kenyamanan hewan ternak sapi, enak dan nyaman bagi para karyawan, efisien untuk tenaga dan alat-alat, pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan peraturan kesehatan, serta dilengkapi oleh bangunan dan alat-alat lain. Bangunan pelengkap lainya adalah kamar susu dan gudang. Kandang dan alat-alat saling disesuaikan agar penggunaannya efisien.
Menentukan Letak kandang
Kandang sebaiknya terletak pada tempat yang lebih tinggi dari lahan sekitarnya, Kemudian untuk Lantainya sebaiknya dibuat 20 sampai 30 cm lebih tinggi dari lahan sekitarnya. Dengan demikian, drainase dapat dibuat lebih baik. Selain itu, pasokan air juga sangat diutamakan.
Dibangun di dekat sarana transportasi, dengan demikian, bahan pakan mudah diangkut ke peternakan, bagian penjualan yang berhubungan dengan kandang terutama dianjurkan dekat jalan raya.
Menentukan Jarak tiap Kandan
kandang sebaiknya dibangun dengan jarak 6 sampai 8 meter yang dihitung dari masing-masing tepi atap, untuk ruangan isolasi dan karantina atau bangunan lainnya diberi jarak 25 m atau sekurang kurangnya 10 m dengan tinggi tembok pembatas 2 m. Kantor berjarak 25 hingga 30 m dari kandang. Tempat penimbunan kotoran terletak 100 m dari kandang.
Rumah dan Banguan penunjang lainya
Rumah peternakan dibangun agar dapat memperhatikan leluasa ke segala arah. Letak rumah paling sedikit 30 m dari jalan raya. Kandang sapi dan bangunan penunjang lainnya terletak di samping atau belakang rumah peternak berjarak minimal 30 m. Rumah atau kamar susu dibuat di sisi kandang pada daerah layan. Bangunan lain dikelompokkan ke daerah ini dan jika mungkin terletak jauh dari kandang utama. Letak bangunan diatur berdasarkan urutan kegiatan dan efisiensi kerja di petenakan sapi perah.
Konstruksi kandang Sapi Yang Baik

·         Lantai miring ke arah saluran pembuangan dan tidak licin. Dengan demikian, kotoran mudah dibersihkan dengan air dan tidak ke got. Selain itu, kebersihan kandang selalu terjaga. Kemiringan lantai hendaknya sebesar 5ยบ atau 0,5% dan 2% masing-masing untuk kandang sapi laktasi dan dara.
·         Bahan-bahan kandang tidak mempersukar kerja, pembersihan kandang dan pembasmian parasit.
·         Konstruksi kandang di dataran tinggi dan rendah sebaiknya memperhatikan temperatur udara yang terjadi di dalam kandang.



Manfaat kandang bagi hewan ternak sapi perah
·         Melindungi ternak dari pengaruh iklim oleh sinar terik matahari, hujan lebat dan gangguan predator.
·         Memenuhi kebutuhan sapi untuk makan, minum, cukup pergerakan, breeding, melahirkan, pemerahan.
·         Memperkecil resiko terhadap kesalahan bentuk kuku, infeksi terhadap putting dan ambing, kekurangan gerak/ tempat yang sempit, lantai yang licin,
·         Menciptakan kompetisi makan yang harmonis, cukup air bersih
·         Tersedia area untuk penanganan sapi sakit, kondisi perbaikan, melahirkan, perawatan ternak, mendiagnosa, dll.
·         Menyediakan tempat untuk pekerja, bekerja lebih mudah, dan cepat , effisiensi kerja setiap kegiatan yang dilakukan.
Ketentuan yang perlu diperhatikan sebelum merancang kandang sapi perah
Nilai ekonomis bangunan
Perlu diketahui dalam merancang kandang sapi perah perlu digunakan bahan yang paling murah sesuai dengan prinsip-prinsip pembuatan kandang sapi perah yaitu menurut kebutuhan sapi dan orang yang akan melakukan kegiatan dalam kandang.
Ketersediaan bahan baku bangunan untuk membangun kandang sapi
·         Atap kandang : Genteng tanah/semen, Bambu anyam berlapis plastik, Kayu
·         Tempat pakan: Beton. Plastik, Kayu, Karet
·         Sekat tempat pakan: Kayu, pipa besi
·         Tempat minum: Plastik, Karet, Beton, Logam
·         Lantai kandang: Beton berlapis karet, Kayu tebal,
·         Sekat sapi : Pipa, kayu
·         Selokan: Beton
·         Penutup selokan : Besi , Kayu
syarat Ventilasi
Untuk memperoleh udara segar dan sejuk dalam kandang, syarat keadaan ventilasi dalam kandang perlu dibuat lebih luas dan bila daerahnya lebih panas bisa dibuat ventilasi terbuka pada sekeliling kandang, karena suhu udara yang diperlukan untuk sapi perah : 10 C- 20° C , jika suhu udara semakin panas lebih dari ketentuan, maka produksi dan pertumbuhan berat badan mulai menurun.. Bangunan kandang skala besar lebih baik menggunakan ventilasi atap monitor.
Alat Penerangan
Penerangan untuk sapi perah relative dibutuhkan terutama pada malam hari minimal 4 watt/ m2. Penerangan memiliki dampak yang baik terhadap fertilitas, 100 watt per 20-25 m2 lantai space(ruang gerak)
Lantai dalam kandang
Lantai dalam kandang sapi perlu dibangun dari tanah padat, bambu, kayu karet dan plaster selama sapi beraktivitas untuk makan, minum, dan reproduksi. Lantai kandang harus terkontrol kondisinya dan harus dalam keadaan kering, dan harus lebih mudah dibersihkan
Space(ruang gerak)
Sapi dapat berproduksi yang tinggi, tumbuh yang baik , jika sapi hidup cukup pergerakan, dan cukup space (ruang gerak) untuk melakukan pergerakan. Space untuk makan sekitar 0.6 m apabila sapi sedang makan. Sapi bisa lahap dalam makan bila cukup space. Space kandang per ekor yang baik antaralain:
·         Pagar kandang area : 5-7 m2
·         Exercise area : 7-12 m2
·         Pasture area : 4050-8100 m2
·         Ruang gerak minimum: dapat di isi 1 sampai 2 ekor sapi
Suhu Ruangan
Keadaan suhu ruangan dalam kandang juga dipengaruhi oleh ketinggian dan bahan baku dari atap kandang yang dipergunakan, sehingga sebelum merancang kandang perlu survei lapangan mengenai bahan baku yang tersedia mempunyai daya isolasi yang baik seperti genteng tanah. Sedangkan ketinggian atap pada daerah yang suhunya panas lebih tinggi dari 2,75 M.
Atap bangunan
Atap bangunan kandang dipilih yang mempunyai isolasi tang baik seperti: ijuk, genting tanah/semen, kayu.
ketersedian Peralatan kandang
Peralatan kandang harus ada sebagai penunjang sarana kebersiahn yang meliputi sekop, cangkul, sapu lidi, alat menempatkan sapi dan sebagainya. Penggunaan alat-alat ini disesuaikan dengan keadaan kandang dan kerja. Misalnya lebar got diatur sesuai dengan lebar sekop.
Peternak sebaiknya juga membandingkan dengan peternakan lain. Peralatan modern membutuhkan penjelasan dari pabrik. Peralatan membutuhkan perawatan dan perhatian. Alat-alat yang digunakan sebaiknya tidak mahal. Penggunaan alat dapat menjaga kebersihan.
Ruang peralatan susu
Minimal ada sinar matahari masuk untuk pagi hari, terdapat rak untuk menyimpan peralatan susu, agar cepat kering dan tidak berbau tengik. Alat yang baru digunakan haruslah segera di cuci bersikan dan segera ditiriskan dirak peralatn susu.
Gudang penyimpanan peralatan kandang
Gudang ini disediakan untuk menyimpan alat kandang seperti: sekop, sikat lantai, temapat duduk pemerahan, tampar tali sapi, sikat lantai, nomor sapi.
Gudang konsentrat
Gudang ini untuk menyimpan konsentrat minimal untuk persediaan hingga 2 mingggu kedepan, disediakan pula alas bambu/ kayu agar tidak lembab untuk menyimpan konsentrat
Gudang menchopper hijauan pakan ternak
Disedikan pula Gudang untuk memotong/ mencacah pakan hijauan seperti: rumput, batang jagung atau leguminosa lainnya.
Ruang Rekording/ Administrasi
Ruang menyimpan data produksi, pakan, reproduksi dan yang lainnya untuk data pengembangan usaha tahun berikutnya, perlu disediakan almari, kalender sirkuler atau lineer untuk reproduksi sapi.
Ruang penangan sapi dan kandang melahirkan
Ruang yang disediakan untuk menangani sapi bila sapi sakit, melahirkan, menginseminasi, atau penanganan sapi, bisa disiapkan kandang jepit : panjang 110 cm. Lebar 55 cm, tinggi tiang belakang 55 cm, Palang kayu setinggi 80 cm
Tempat pengelolaan limbah
Tempat pengelolaan limbah direncanakan sesuai dengan jumlah kepemilikan sapi ( untuk 3 sampai 5 ekor sapi perlu tempat biogas 9-10 m3 )
Ketersediaan air
Ketersedian air mutlak diperlukan keadaanya dalam usaha peternakan sapi perah. Hal ini disebabkan susu yang dihasilkan 87% berupa air dan sisanya berupa bahan kering. Disamping itu, untuk mendapatkan 1 litter susu, seekor sapi perah membutuhkan 3-4 litter air minum. Untuk menghasilkan susu yang sebagian besar berupa air tersebut, keberadaan atau ketersediaan air dilingkungan sekitar lokasi peternakan harus diperhitungkan secara matang. Dengan perhitungan yang matang, peternak diharapkan tidak perlu mendapat kesulitan di kemudian hari.
Dalam peternkan umumnya, air digunakan tidak hanya untuk sekedar minum sapi saja namun berpungsi juga untuk memandikan ternak sapi dan membersihkan kandang. Khusus untuk ketersedian air minum, sebaiknya sapi diberikan minum secara adlibitum atau tidak terbatas jumlahnya (sekenyangnya).